Vibrio: Tips Aman Berenang di Perairan Eropa

Gaya hidup114 Dilihat

Vibriosis atau infeksi yang sering muncul pada musim panas dapat menjadi masalah yang cukup berbahaya. Bakteri Vibrio tumbuh dengan cepat di beberapa tempat wisata yang dikunjungi para pengunjung, seperti Laut Baltik ini.

Hal-hal yang perlu diketahui:

Vibriosis disebabkan oleh bakteri Vibrio yang secara alami terdapat di perairan pesisir yang beriklim hangat, air payau, dan dengan kadar garam rendah. Tempat-tempat umum di Eropa meliputi Laut Baltik, Laut Utara, dan Laut Hitam. Perubahan iklim bisa membuat kondisi laut semakin cocok untuk pertumbuhan bakteri ini. Gejala yang muncul saat terinfeksi meliputi diare, nyeri perut, muntah, dan demam. Untuk melindungi diri, hindari mengonsumsi kerang yang mentah atau setengah matang, serta jangan berenang di laut jika memiliki luka terbuka.

Para ilmuwan saat ini sering menghubungkan berbagai fenomena dengan perubahan iklim. Mengenai infeksi bakteri Vibrio, terlihat adanya hubungan yang cukup erat, karena bakteri ini cenderung berkembang pesat di air yang hangat dan memiliki kadar garam rendah.

Di Laut Baltik, suhu permukaan laut terus meningkat, sedangkan tingkat salinitasnya mengalami penurunan. Penelitian menyebutkan bahwa kondisi ini disebabkan oleh perubahan iklim.

Negara-negara Nordik yang berbatasan dengan Laut Baltik melaporkan peningkatan jumlah infeksi oleh bakteri Vibrio, seiring dengan meningkatnya suhu permukaan air laut.

Meskipun infeksi Vibrio masih termasuk langka, lembaga kesehatan seperti Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa ECDC memberi peringatan bahwa risiko infeksi meningkat selama musim panas yang diiringi oleh gelombang panas yang berlangsung lama.

Apa itu Vibriosis?

Bakteri Vibrio dapat memicu dua jenis penyakit, yaitu kolera dan vibriosis. Artikel ini mengarah pada pembahasan tentang vibriosis, yang terkadang juga dikenal sebagai vibriosis non-kolera.

Vibriosis merupakan penyakit yang dapat menimbulkan risiko berbahaya, bahkan bisa mengancam jiwa, terutama pada individu dengan daya tahan tubuh yang rendah.

Mari berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Perbarui pengetahuanmu di tengah minggu, agar topik percakapan semakin menarik!

Penyebabnya adalah berbagai jenis bakteri Vibrio seperti:

Vibrio vulnificus Vibrio parahaemolyticus Vibrio alginolyticus

Beberapa jenis infeksi dapat mengakibatkan kematian jaringan di sekitar luka yang terbuka (necrotizing fasciitis). Pada kasus yang jarang terjadi, infeksi oleh Vibrio vulnificus bisa memicu kondisi berbahaya yang memerlukan perawatan intensif atau tindakan amputasi.

Di Amerika Serikat (AS), sekitar satu dari lima orang yang terinfeksi Vibrio vulnificus meninggal dalam waktu dua hari, menurut laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, CDC. Diperkirakan terdapat 80.000 kasus dan 100 kematian akibat infeksi Vibrio setiap tahunnya di AS.

Bagaimana bisa terinfeksi Vibriosis?

Sebagian besar penderita vibriosis tertular melalui sistem pencernaan setelah mengonsumsi kerang tiram atau remis yang belum matang atau masih mentah.

Infeksi juga dapat terjadi ketika seseorang berenang dan secara tidak sengaja menelan air laut yang tercemar, atau saat terjadi kontak dengan luka terbuka pada kulit.

Banyak orang dengan kondisi kesehatan tertentu lebih rentan terkena infeksi bakteri ini. Contohnya, mereka yang mengalami kerusakan pada organ hati seperti hepatitis atau sirosis, serta individu yang mengonsumsi alkohol atau obat-obatan secara berlebihan.

Risiko juga meningkat pada penderita kanker, diabetes, HIV, serta pasien yang menjalani pengobatan penghambat sistem imun atau mengonsumsi obat pengurang asam lambung.

Harus dicatat bahwa Vibriosis tidak menyebar dari satu orang ke orang lainnya.

Bagaimana cara mencegahnya?

Untuk menghindari infeksi Vibriosis, lebih baik tidak memakan kerang yang masih mentah atau setengah matang.

Lembaga kesehatan juga menyarankan agar menghindari berenang di laut atau air tawar yang asin, jika sedang memiliki luka terbuka. Jika terkena luka saat berenang, segera keluar dari air, bersihkan luka dengan benar dan tutup luka dengan baik.

Jika Anda memiliki kondisi kesehatan tertentu dan sistem kekebalan tubuh sedang menurun, atau baru saja menjalani operasi, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum berenang di laut.

Apa saja gejalanya?

Gejala vibriosis bervariasi tergantung jenis infeksinya, tetapi secara umum mirip dengan gejala flu atau gangguan pencernaan ringan:

Diare Nyeri perut Mual Muntah Demam Menggigil

Jika infeksi masuk ke dalam aliran darah, tekanan darah umumnya bisa turun secara signifikan dan kulit dapat mengalami luka bakar.

Sementara infeksi melalui luka terbuka umumnya menunjukkan gejala kemerahan, rasa sakit, pembengkakan, serta dapat mengakibatkan luka yang berlendir.

Di manakah bakteri Vibrio paling umum ditemukan?

Di Eropa, Laut Baltik menjadi tempat utama berkembangnya bakteri Vibrio. Hal ini berdampak pada masyarakat yang tinggal di daerah pesisir seperti Denmark, Jerman bagian timur laut, Finlandia, Estonia, Latvia, Swedia, Lithuania, Polandia, hingga Rusia.

Di Laut Utara, bakteri ini ditemukan di sekitar pantai Belanda dan Belgia. Sementara di Eropa Tenggara, mereka berkumpul di Laut Hitam, memengaruhi daerah pesisir Rumania, Bulgaria, Turki, dan Ukraina.

Angka kasus per tahun di Eropa mencapai ratusan. Peningkatan jumlah kasus terjadi pada 2018, dengan 445 laporan kasus yang diterima.

Wilayah Amerika Utara dan Asia Tenggara mengalami dampak yang serupa. Perairan payau, seperti muara sungai, menjadi tempat favorit bagi bakteri ini karena suhu yang hangat, kondisi yang tertutup, serta kadar garam yang rendah, yaitu lingkungan yang sempurna untuk pertumbuhan bakteri tanpa gangguan.

Apakah perubahan iklim penyebabnya?

Perubahan iklim bukan faktor langsung yang memicu munculnya wabah bakteri Vibrio.

Namun, ECDC mengingatkan pada 11 Juli 2025 bahwa kondisi yang cocok bagi bakteri ini berkembang “semakin sering muncul di beberapa wilayah Eropa karena perubahan iklim.”

Berdasarkan laporan Badan Lingkungan Eropa (EEA),gelombang panas di bulan Juni 2025telah memicu peningkatan kasus vibriosis di pantai Laut Baltik dan Laut Utara.

Data EEA menunjukkan bahwa suhu permukaan Laut Baltik meningkat dari -1°C pada tahun 1990 menjadi sekitar 0,5°C pada tahun 2024.

Penelitian lain juga menunjukkan bahwa peningkatan aliran air sungai ke Laut Baltik akibat perubahan iklim menyebabkan penurunan tingkat salinitas di Laut Baltik.

Oleh karena itu, meskipun perubahan iklim bukan penyebab munculnya bakteri Vibrio, namun dapat meningkatkan risiko penyebarannya.

Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris. Diadaptasi oleh Khoirul Pertiwi. Editor: Hendra Pasuhuk

ind:content_author: Zulfikar Abbany