Penelitian: Pembersihan Polusi Udara di Tiongkok dan Asia Timur Memicu Pemanasan Bumi

Terbaru257 Dilihat

Laju pemanasan global terus meningkatsejak tahun 2010, mengantarkan kita pada masa yang paling panas dalam sejarah.

Penyebab pasti dari peningkatan suhu bumi yang semakin cepat masih belum sepenuhnya diketahui dan menjadi salah satu pertanyaan utama dalam dunia ilmu pengetahuan saat ini.

Studi terbaru kamimenyatakan bahwa penurunan polusi udara—khususnya di Tiongkok dan Asia Timur—merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan pemanasan global terjadi lebih cepat saat ini.

Sebelumnya, kebijakan internasional yang bertujuan menurunkan emisi belerang dari sektor maritim pernah diangkat sebagai faktorpenyebabSulfur dioksida (SO₂) yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar kapal membentuk partikel halus di atmosfer yang mengurangi cahaya matahari yang masuk ke permukaan Bumi.

Hal tersebut secara tidak sengaja mengurangi laju pemanasan global. Ketika lapisan tersebut hilang, Bumi akan mengalami pemanasan.

Namun, usaha tersebut baru dimulai pada tahun 2020 dan dianggapterlalu lemahuntuk menggambarkan percepatan pemanasan global yang sedang berlangsung.

Para ilmuwan NASA menduga bahwa perubahan pola awan mungkin turut berkontribusi, baik karena penurunan tutupan awan diwilayah tropis maupun di Samudra Pasifik bagian utara.

Namun, satu hal penting yang belum sepenuhnya dihitung secara rinci adalah pengaruh dari upaya besar negara-negara di Asia Timur—khususnya Tiongkok—dalam mengatasi pencemaran udara melalui kebijakan yang ketat.

Sejak tahun 2013, kadar sulfur dioksida (SO₂) di kawasan Asia Timur telah mengalami penurunan sebesar 75%. Upaya pengurangan polusi ini dilakukan secara intensif tepat saat pemanasan global semakin terasa parah.

Studi kamimenyelidiki hubungan antara peningkatan kualitas udara di Asia Timur dengan suhu permukaan bumi. Penelitian ini melibatkan delapan kelompok model iklim dari berbagai wilayah di dunia.

Kami menemukan bahwa udara yang terpolusi selama ini mungkin telah menyembunyikan dampak keseluruhan dari pemanasan global. Udara yang kini lebih bersih justru menunjukkan kondisi sebenarnya pemanasan global yang disebabkan oleh emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia.

Selain menyebabkan jutaan kematian dini, polusi udara “menghalangi” sebagian cahaya matahari sehingga permukaan bumi terasa lebih dingin. Jumlah polusi yang besar selama ini mampu menghambat laju pemanasan global akibat emisi yang dihasilkan oleh kegiatan manusia hingga sekitar0.5°C dalam satu abad terakhir.

Namun, ketika polusi udara dikurangi—yang tentu sangat penting bagi kesehatan manusia—”payung buatan” tersebut juga menghilang. Karena emisi gas rumah kaca terus meningkat, permukaan Bumi kini mengalami pemanasan lebih cepat daripada sebelumnya.

Memodelkan dampak pembersihan polusi

Tim kami menggunakan 160 simulasi komputer dari delapan model iklim global. Dengan hal ini, kami mampu menghitung dengan lebih akuratdampak pencemaran udara dari kawasan Tiongkok Timurterkait dengan suhu dan pola curah hujan secara global.

Kami melakukan simulasi skenario pembersihan pencemaran yang mirip dengan kejadian di dunia sejak tahun 2010. Hasilnya, terjadi kenaikan pemanasan global sekitar 0,07°C.

Angka ini mungkin tampak kecil jika dibandingkan dengan pemanasan global total sejak tahun 1850 (sekitar 1,3°C). Namun sesungguhnya kenaikan tersebut cukup penting untuk menjelaskan percepatan pemanasan yang kita alami belakangan ini.

Terlebih lagi, kami telah menghasilkan dampak fluktuasi suhu tahunan akibat siklus alami seperti El Niño, fenomena iklim di Samudra Pasifik yang menyebabkan kenaikan suhu global.

Berdasarkan tren jangka panjang, seharusnya kita hanya mengalami kenaikan suhu sekitar 0,23°C sejak tahun 2010. Namun, data yang teramati menunjukkan peningkatan suhu mencapai 0,33°C.

Penambahan 0,1°C ini sebagian besar dapat dijelaskan melalui pengurangan polusi udara di kawasan Asia Timur.

Faktor lain yang juga berkontribusi adalah pengurangan emisi dari sektorpelayaran serta lonjakan konsentrasi metana di atmosfer belakangan ini.

Polusi udara mengurangi suhu Bumi dengan mengubah karakteristik awan sehingga lebih banyak memantulkan cahaya matahari. Pembersihan polusi udara di kawasan Asia Timur mengurangi dampak efek ini di daerah tersebut.

Penurunan polusi juga mengurangi jumlah zat pencemar yang dibawa oleh angin melewati Samudra Pasifik utara. Hal ini menyebabkan awan di wilayah Pasifik timur memantulkan lebih sedikit cahaya matahari.

Pola perubahan yang terjadi di kawasan Pasifik Utara yang kami simulasi dalam model penelitian ini sesuai dengan data yang teramati melalui pengamatan satelit. Hasil dari simulasi model maupun pengukuran suhu menunjukkan bahwa wilayah tersebut mengalami pemanasan yang signifikan, terutama di daerah yang terpengaruh oleh angin dari Asia Timur.

Penyebab utama pemanasan global masih berasal dari emisi gas rumah kaca. Mengurangi pencemaran udara merupakan tindakan yang penting dan seharusnya dilakukan.

Proses ini bukan penyebab pemanasan tambahan, tetapi menghilangkan efek pendinginan yang diciptakan manusia yang selama ini menutupi sebagian dampak perubahan iklim—seperti cuaca ekstrem dan akibat-akibat lainnya.

Pemanasan global akan terus berlangsungselama beberapa puluh tahun ke depan. Tentu saja, gas rumah kaca yang telah kita hasilkan di masa lalu dan yang masih kita hasilkan saat ini akan terus memengaruhi iklim selama berabad-abad mendatang.

Sebaliknya, polusi udara dapat menghilang dari atmosfer dalam waktu singkat. Oleh karena itu, percepatan pemanasan global yang disebabkan oleh hilangnya efek pendinginan dari polusi ini kemungkinan hanya bersifat sementara.

Artikel ini pertama kali diterbitkan diThe Conversation, situs berita non-profit yang menyebarkan ilmu pengetahuan akademis dan para peneliti.

  • Alasan bendungan laut besar Pantura bukan merupakan solusi yang dibutuhkan oleh masyarakat.
  • Cuaca semakin memburuk, saatnya mengubah sistem pengelolaan air kita

Laura Wilcox mendapatkan pendanaan dari Natural Environment Research Council (NERC), Norwegian Research Council, Clean Air Fund, dan Horizon Europe.

Bjørn H. Samset mendapatkan pendanaan dari Badan Penelitian Norwegia, Clean Air Fund, dan Horizon Europe.