Tentara Israel Dihina dan Diancam oleh Warga Yahudi: Kekacauan di Tepi Barat Muncul

Politik117 Dilihat

– Kekacauan yang mengguncang citra militer Israel meletus di Tepi Barat ketika anggota IDF justru menjadi sasaran serangan ganas dari kelompok ekstremis pemukim Yahudi akhir pekan lalu. Dalam sebuah ironi gelap, prajurit yang biasanya menangani warga Palestina kini harus menghadapi kekerasan dari sesama warga Israel yang menyebut mereka ‘Nazi’ dan mengancam akan membunuh mereka.

Insiden membara terjadi pada hari Minggu (29/6) malam di Binyamin, wilayah pendudukan Tepi Barat, ketika sekelompok pemukim muda, sebagian besar berusia 20-an, menyerang pos militer IDF.

Mereka menyemprotkan gas air mata ke arah pasukan militer, merusak kendaraan militer, dan bahkan berusaha membakar kantor keamanan. Seorang anggota Batalyon 7114 yang melintasi kerusuhan melaporkan menerima caci maki dan ancaman yang sangat menakutkan.

Hari-hari yang sulit. Aku hanya melewati tempat itu saat aksi protes dimulai, tetapi langsung dihujat dengan kata-kata ‘pembunuh’, bahkan ‘Nazi’. Mereka terus-menerus datang dan pergi. Seperti bermain permainan kucing dan tikus. Mereka diperintahkan mundur, lalu kembali lagi, menyerang dan mengancam nyawa kami,” kata seorang prajurit tanpa nama kepada media Israel.KAN, dikutip Kamis (3/7).

Ini bukan kejadian yang terisolasi. Beberapa hari sebelumnya, kerumunan pemukim berkaos kepala menyerang pasukan IDF di dekat Ramallah. Mereka melemparkan batu, menganiaya, dan memukuli anggota militer.

Beberapa prajurit dan seorang perwira dilaporkan mengalami cedera ringan. Pelaku serangan juga berusaha membakar fasilitas milik polisi dan menulis kata ‘Pembalasan’ dalam bahasa Ibrani di dinding bangunan.

Secara keseluruhan, sebelas orang ditangkap terkait gelombang kekerasan ini, termasuk enam orang dalam kejadian Binyamin dan lima lainnya terkait serangan di Ramallah.

Peristiwa kekerasan ini menimbulkan keguncangan di kalangan militer Israel. Para perwira cadangan dari Binyamin mengakui bahwa mereka belum pernah melihat peningkatan rasa benci yang begitu besar dari sesama warga Yahudi.

Mereka mendapatkan ancaman pembunuhan, bukan dari lawan asing, tetapi dari tangan yang seharusnya memberikan dukungan. Di sisi lain, IDF terus melakukan operasi penangkapan skala besar di berbagai lokasi di Tepi Barat, termasuk di kamp pengungsi Askar, Hebron, Ramallah, Tubas, dan Dahariya.

Namun krisis internal yang saat ini menggerogoti tubuh militer Israel justru datang dari sisi yang tidak terduga: para pemukim ekstrem yang kini menyebut tentaranya sendiri sebagai ‘pengkhianat’ dan ‘Nazi’. Kekacauan ini tidak hanya menciptakan celah dalam disiplin militer, tetapi juga mengungkap konflik di dalam masyarakat Israel sendiri, antara ideologi ekstrem dan militer yang selama ini menjadi fondasi kekuasaan mereka di wilayah pendudukan.