Google DeepMind Peroleh Medali Emas di Olimpiade Matematika Internasional

Terbaru360 Dilihat

laksamana.id –, Jakarta– Model-model kecerdasan buatan atauartificial intelligence (AI) dari Google DeepMinddan OpenAI untuk pertama kalinya mencapai kinerja setara medali emas dalamOlimpiade MatematikaInternasional. Prestasi tahun ini lebih baik dibandingkan tahun lalu yang mencapai tingkat pemenang medali perak.

Olimpiade Matematika Internasional (IMO) merupakan salah satu ajang bergengsi bagi para pemuda yang berminat pada matematika. Kompetisi ini sudah lama menjadi incaran para ahli pemikiran tiruan sebagai sebuahlitmus test untuk reasoningmatematika yang biasanya dijalani oleh sistem AI.

Pada tahun sebelumnya, setelah penyelenggaraan IMO di Bath, Inggris, selesai, Google DeepMind mengumumkan bahwa model AI yang dikembangkannya—AlphaProof dan Alpha Geometry—menunjukkan kemampuan setara dengan peraih medali perak dalam kompetisi tersebut. Namun, prestasi dari model-model AI ini tidak termasuk dalam penilaian resmi IMO.

Berbeda dengan tahun ini, sebelum kompetisi diadakan di Queensland, Australia, pada 10-20 Juli 2025, beberapa perusahaan teknologi serta berbagai peneliti telah menghubungi penyelenggara untuk bertanya apakah kinerja model AI mereka dapat dimasukkan dalam penilaian resmi. Perusahaan-perusahaan tersebut tidak hanya Google, tetapi juga Huawei dan ByteDance.

“Kami setuju, tetapi dengan syarat perusahaan-perusahaan menahan diri untuk mengumumkan hasil masing-masing sampai upacara penutupan IMO benar-benar selesai,” ujar Presiden IMO, Gregor Dolinar, seperti dikutip dari artikel yang diterbitkan.Newscientist pada 22 Juli 2025.

Menurut Dolinar, OpenAI akhir-akhir ini bertanya apakah mereka dapat bergabung dalam kompetisi yang sama, tetapi tidak memberikan respons lebih lanjut setelah diberi tahu mengenai persyaratannya. Pada 19 Juli, OpenAI secara tiba-tiba mengumumkan bahwa model AI terbarunya meraih skor untuk medali emas.

Penilaian dilakukan secara terpisah dari kompetisi oleh tiga mantan pemenang medali IMO. OpenAI mengklaim mampu menjawab lima dari enam soal yang diberikan dalam waktu yang sama dengan peserta IMO, yaitu 4,5 jam.

Dua hari berikutnya, Google DeepMind juga mengumumkan bahwa sistem AI mereka bernama Gemini Deep Think berhasil meraih medali emas. Mengenai hasil ini, Doliner membenarkan bahwa penilaian dilakukan secara resmi oleh IMO.

Model Kecerdasan Buatan Pengganti Bahasa, Matematikawan Masih Meragukan

Tidak seperti sistem atau model AlphaProof dan AlphaGeometry yang dirancang khusus untuk mengikuti kompetisi IMO dan bekerja dengan soal-soal serta jawaban-jawaban yang ditulis dalam bahasa pemrograman komputer bernama Lean, model-model terbaru yang dikembangkan Google maupun OpenAI untuk kompetisi tahun ini beroperasi sepenuhnya dalam bahasa alami.

Dengan Lean berarti outputatau jawaban bisa langsung diperiksa, namun lebih sulit bagi yang bukan ahli untuk memahaminya. Sementara itu, penggunaan bahasa alami memungkinkan pembuatan jawaban yang lebih mudah dipahami. “Metode ini merupakan kunci keberhasilan Google dengangame-playing AI-nya, seperti AlphaZero,” ujar Thang Luong dari Google yang menangani Gemini Deep Think.

Gemini Deep Think juga mempertimbangkan berbagai solusi sekaligus dalam satumodeyang dikenal sebagai ‘berpikir paralel’. “Model ini juga dilatih pada kumpulan data soal matematika yang secara khusus sangat bermanfaat untuk IMO.”

OpenAI hanya mengungkapkan sedikit informasi mengenai sistem atau model kecerdasan buatan yang dikembangkannya. Misalnya, perusahaan ini menerapkan metode pembelajaran yang diperkuat dan pendekatan penelitian eksperimental.

Itulah mengapa, profesor matematika dari University of California, Amerika Serikat, Terence Tao, serta rekan kerjanya di University of Sydney, Geordie Williamson, menyatakan belum bisa memberikan komentar yang banyak. Nanti, setelah perusahaan-perusahaan tersebut merilis beberapa makalah dengan data yang lebih lengkap, dan memberikan akses yang memadai terhadap model-model mereka, mereka mengatakan, seseorang dapat memberikan penilaian yang lebih pasti.

“Tetapi untuk saat ini kami hanya dapat percaya kepada hasil atau angka yang diklaim dicapai oleh perusahaan-perusahaan tersebut,” kata Tao menambahkan.

Dua perusahaan berjanji akan segera menguji model-model AI mereka dengan para ahli matematika dalam beberapa bulan mendatang. Setelah itu, akan dibuka untuk publik secara lebih luas. “Akan ada banyak masalah yang selama ini belum terpecahkan yang bisa dikerjakan,” ujar Junehyuk Jung dari Google yang juga terlibat dalam proyek Gemini Deep Think.