Arosuka, Eraindependen.com-Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 menjadi momentum reflektif untuk menegaskan kembali kedudukan pers sebagai instrumen rasionalitas publik dalam kerangka demokrasi deliberatif dan pembangunan daerah yang berkelanjutan. Pers tidak hanya berfungsi sebagai medium transmisi informasi, melainkan juga sebagai entitas epistemik yang berperan dalam membentuk kesadaran publik, menguji legitimasi kebijakan, serta menjaga etika kekuasaan melalui mekanisme kontrol sosial yang beradab.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Solok, Susi Sofianti Saidani, dalam moment peringatan HPN 2026, Kamis (5/2/2026).
Ia menegaskan bahwa eksistensi pers yang sehat, independen, dan patuh pada prinsip-prinsip kode etik jurnalistik merupakan prasyarat normatif bagi terwujudnya tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada kepentingan publik.
Menurutnya, tema HPN 2026 “Pers Sehat, Ekonomi Berdaulat, Bangsa Kuat” merepresentasikan korelasi struktural antara kualitas jurnalisme, ketahanan ekonomi nasional, dan konsolidasi demokrasi. Dalam lanskap komunikasi digital yang ditandai oleh percepatan arus informasi, fragmentasi opini, serta banjir disinformasi, pers dituntut untuk tidak semata mengedepankan kecepatan produksi berita, tetapi juga menjunjung tinggi akurasi faktual, keberimbangan perspektif, serta tanggung jawab intelektual dan moral.
“Pers yang sehat merupakan fondasi bagi lahirnya masyarakat yang tercerahkan secara rasional. Ketika ruang publik diisi oleh informasi yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan secara epistemologis, maka partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan akan berkembang secara kritis, rasional, dan produktif,” ujar Susi.
Ia menambahkan, dalam konteks disrupsi informasi dan meningkatnya prevalensi hoaks, jurnalis memiliki peran strategis sebagai penjaga kualitas wacana publik (guardian of public discourse). Oleh karena itu, pemerintah daerah memandang pers bukan sekadar sebagai objek kritik atau oposisi simbolik, melainkan sebagai mitra strategis dalam membangun kepercayaan publik, memperkuat legitimasi kebijakan, serta memastikan proses pengambilan keputusan publik berlangsung secara transparan dan berbasis data.
Lebih lanjut, Susi Sofianti Saidani mendorong insan pers, khususnya di Kabupaten Solok dan Sumatera Barat, untuk terus mengembangkan paradigma jurnalisme konstruktif dan solutif. Dalam perspektif ini, pemberitaan tidak berhenti pada eksposisi problematik, tetapi diarahkan untuk memperkaya diskursus publik melalui analisis yang komprehensif, argumentasi berbasis fakta, serta orientasi pada solusi kebijakan yang rasional dan kontekstual.
Peringatan Hari Pers Nasional 2026 secara nasional dipusatkan di Provinsi Banten dan diikuti oleh insan pers dari berbagai daerah di Indonesia. Momentum ini diharapkan menjadi ruang refleksi kolektif guna memperkuat profesionalisme jurnalistik, memperteguh integritas etika pers, serta menegaskan komitmen bersama dalam menjaga demokrasi, keadilan sosial, dan kedaulatan informasi di tengah dinamika global yang semakin kompleks.(Rell/Al)










