Berharap Rampung 2025, TG 08 Sumbar Angkat Bicara Terkait Pekerjaan Penanggulangan Abrasi Di Tiku

Terbaru311 Dilihat

Kab. Agam, Eraindependen – Berdasarkan hasil penelusuran Team Garuda 08 (TG 08) Sumatera Barat bersama Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Garuda Nasional Indonesia (Garuda NI) dilokasi pekerjaan penanggulangan Abrasi pantai Tiku, Jorong Masang, Nagari Tiku V Jorong, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kabupaten Agam.

Dengan seksama, berdasarkan pantauan dilokasi pengerjaan penanggulangan Abrasi tersebut, Ketua TG 08 Sumbar, Zamzami Edwar dan Bj. Rahmat selaku Ketua LSM Garuda NI mengatakan, bahwa pekerjaan yang tengah dikebut tersebut telah berjalan dengan semestinya dan berharap selesai di akhir tahun 2025 ini.

“Adanya pemberitaan yang muncul di salah satu media online beberapa waktu lalu itu hal yang biasa dalam pengawasan pengelolaan uang negara”, ungkapnya, Minggu (16/11/25).

Namun, katanya menambahkan, perlu dicatat untuk suplayer material batu tidak di satu tempat, ada yang dari Tigo Nagari Pasaman, ada yang dari Tandikek/Kayu tanam Kabupaten Padang Pariaman.

“Jadi untuk membedakan mana batu dari Tandikek/kayu tanam, dan mana batu dari Tigo Nagari Pasaman, kita harus lihat sedetail mungkin agar bisa membedakannya. Hal demikian agar kita semua dapat memahami kondisinya”, Ujar kedua ketua tersebut dengan nada sama.

Sedangkan, untuk melihat keabsahan legalitas galian c masing-masing kita harus datangi lokasi di mana galian c tersebut berada. Tanya sama pemiliknya. Sehingga kita tidak mengira-ngira. Perusahaan yang membeli material secara otomatis pasti memenuhi syarat dan ketentuannya.

“Berbicara tentang spek batu ukuran kecil dari 5 kg. Itu memang ada dalam Spesifikasinya.Dan memang dipesan oleh perusahaan,ukuran tersebut digunakan untuk alas pemasangan Geotec”, jelasnya lagi.

Selain itu, Bukan tidak ada batu ukuran kecil, agar kita bisa memahami kondisinya. Kita harus turun ke lokasi.
Dengan adanya pemberitaan kita harus bijak memahaminya. Kadang itu terjadi dikarenakan ada persaingan bisnis. Namun itu hal yang lumrah terjadi.

“Sebagai kontrol sosial berharap pada semua pihak, agar betul- betul memahami kondisi untuk penyelamatan pantai. Dan berharap adanya masukan- masukan positif guna kelancaran pekerjaan tersebut”, Pungkas dua ketua organisasi masyarakat itu dengan lantang. (*)