AI dan Satelit Buka Era Baru Pemantauan Tanaman Cerdas di Indonesia

Terbaru242 Dilihat

10drama.com –Meskipun Indonesia memiliki sumber daya pertanian yang melimpah, masalah ketersediaan pangan tetap menjadi isu penting. Berdasarkan laporan terbaru, Indonesia memiliki sekitar 23,52 juta hektar lahan pertanian dan tanaman tetap—yang mencakup 12,35% dari seluruh wilayah negara—namun efisiensi penggunaan lahan serta hasil panen masih perlu ditingkatkan.

Sebagai contoh, beras merupakan makanan pokok utama, namun pada tahun 2022 Indonesia masih memerlukan impor sebesar 507.000 ton beras untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Komoditas penting lainnya seperti kedelai, gula, dan daging sapi juga sangat tergantung pada pasokan dari luar negeri.

Lahan pertanian yang terpecah-pecah dan jumlah petani kecil yang besar, ditambah dengan kekeringan dan banjir yang semakin sering muncul akibat perubahan iklim, telah membuat produksi pertanian menjadi tidak stabil.

Data menunjukkan bahwa indeks produksi tanaman pangan Indonesia turun sebesar 2,61 poin dalam dua tahun terakhir, yang diperkirakan setara dengan penurunan produksi sekitar 2,6 juta ton, menunjukkan pentingnya pengelolaan tanaman dan pengendalian hama yang lebih akurat.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah Indonesia secara aktif mendorong peremajaan pertanian dan program pertanian yang lebih canggih. Penggunaan teknologi seperti satelit, drone, dan kecerdasan buatan mulai diterapkan secara bertahap dalam pengelolaan lahan serta evaluasi risiko tanaman, dengan tujuan mengatasi ketidakefisienan dan ancaman dalam sistem pertanian konvensional melalui inovasi teknologi.

 

DATAYOO, perusahaan teknologi kecerdasan buatan yang bergerak di bidang pertanian modern, memiliki kantor di Taiwan dan Singapura, serta ikut serta dalam gerakan ini.

“Untuk menghadapi perubahan iklim dan mengelola lahan pertanian yang luas, generasi baru pertanian cerdas perlu beralih ke sistem yang tidak memerlukan sensor dan campur tangan manusia secara minimal. Hanya dengan pendekatan ini kita benar-benar bisa meningkatkan hasil produksi dan efisiensi. Dengan menggabungkan ilmu data dan data spektral dari satelit, kami membantu para petani dalam memantau perkembangan tanaman serta risiko yang mungkin terjadi,” kata pendiri sekaligus CEO Shaw Wu.

Produk andalan DATAYOO, FarmiSpace, merupakan wujud nyata dari visi tersebut. Sistem ini terpilih sebagai pemenang dalam Singapore AgriTech Challenge 2024 dan memperoleh medali emas dalam ajang Best AI Awards 2025, sehingga menyebar luas secara global dan menjadi salah satu solusi pertanian presisi yang paling dikenal di kawasan Asia-Pasifik.

Keunggulan FarmiSpace dibandingkan solusi lainnya terletak pada kemampuannya yang melebihi citra satelit konvensional. Sistem ini memanfaatkan data spektral berkelanjutan dari satelit, dengan menggunakan model AI khusus untuk menganalisis pantulan cahaya tanaman dan menghitung indikator penting seperti kadar air, klorofil, NDVI, hingga kandungan nitrogen di tanah dan tanaman.

Petani dan perusahaan mampu mengawasi lahan secara jarak jauh setiap hari tanpa perlu memasang sensor di darat atau melakukan input manual, sehingga memungkinkan pemantauan menyeluruh dan analisis prediktif.

Di Karawang, penyedia layanan pertanian berbagi pengalamannya setelah memanfaatkan FarmiSpace untuk mengawasi penyakit blast pada tanaman padi pada tahun 2024.

“Laporan area kerusakan akibat penyakit yang disajikan platform setiap minggu memiliki tingkat keakuratan sebesar 98% dibandingkan hasil survei lapangan kami. Hal ini memungkinkan kami untuk bertindak lebih cepat, mengurangi waktu tanggap, serta meminimalkan kerugian pada panen,” tambah Shaw.

Analisis jarak jauh berpresisi tinggi ini sangat penting di negara seperti Indonesia, yang memiliki geografi yang luas sehingga membuat pemeriksaan lahan secara manual menjadi sulit.

Untuk memastikan pelaksanaan lokal yang berhasil, DATAYOO juga mengadakan kerja sama dengan perusahaan agri-teknologi Indonesia, Blessed Bentara Agri, yang telah lama mendukung petani setempat melalui penggunaan drone dan sistem irigasi otomatis.

Pada bulan Juli 2025, selama acara ITICF Summit di Batam, kedua perusahaan melakukan penandatanganan kesepakatan kemitraan strategis.

Melalui kerja sama ini, pengelola lahan pertanian dapat memanfaatkan FarmiSpace untuk mengenali area berisiko dan ketidaknormalan dalam pertumbuhan tanaman, kemudian segera mengambil tindakan dengan menggunakan teknologi drone dan sistem irigasi dari Bentara agar intervensi bisa dilakukan secara efektif dan tepat waktu.