Waka Kaderisasi GMNI Padang: Jangan Jadikan Demonstrasi Panggung Euforia! Dialog Pun Bagian dari Perjuangan

Prabowo6 Dilihat

Padang– Wakil Ketua Bidang Kaderisasi Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Padang, Anggara Surya Pratama, menyampaikan keprihatinan mendalam atas aksi demonstrasi yang digelar sejumlah organisasi mahasiswa di depan Kantor Gubernur Sumatera Barat beberapa hari lalu. Ia menilai aksi tersebut kehilangan substansi dan lebih tampak sebagai gerakan yang didorong sentimen sesaat ketimbang kajian yang matang.

“Gerakan mahasiswa itu dibangun di atas tradisi intelektual. Ada riset, ada kajian, ada diskusi panjang sebelum sebuah aksi diputuskan. Yang kita lihat hari ini justus sebaliknya aksi yang terkesan terburu-buru, isu yang sudah dibahas dalam forum terbuka, dan tuntutan yang tidak menawarkan solusi baru apapun. Ini bukan gerakan yang lahir dari kesadaran kritis, ini gerakan yang lahir dari FOMO,” ujar Anggara tegas.

Anggara menyoroti fakta bahwa Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sebelumnya telah menggelar forum dialog terbuka bersama Cipayung Sumbar dan Organisasi Kepemudaan (OKP), di mana mahasiswa diberikan ruang penuh untuk menyampaikan aspirasi, kritik, bahkan desakan kebijakan secara langsung di hadapan Gubernur dan para kepala OPD terkait. Isu-isu yang kini dibawa ke jalanan adalah isu yang sama persis yang telah dibahas dalam forum tersebut.

“Kalau kajiannya kuat, kalau isu yang dibawa benar-benar baru dan mendesak, kami hormati sepenuhnya. Tapi ketika isu yang diteriakkan di jalanan adalah isu yang sudah disampaikan dalam meja dialog dan mereka sendiri hadir di sana maka publik berhak bertanya: ini aksi intelektual atau aksi ikut-ikutan?” tegasnya.

Terkait narasi yang belakangan beredar di sebagian kalangan bahwa peserta forum dialog bersama Gubernur telah “dikondisikan” sehingga tidak bebas menyuarakan sikap kritis Anggara merespons dengan tenang namun lugas. Ia menilai tuduhan semacam itu justru mencerminkan ketidaksiapan pihak-pihak tertentu untuk menerima kenyataan bahwa aspirasi bisa disampaikan tanpa harus selalu melalui jalan yang gaduh.

“Kami hadir di forum itu bukan sebagai tamu undangan yang datang untuk mengangguk-angguk. Kami hadir sebagai organisasi yang punya sikap, dan kami sampaikan sikap itu secara langsung. Kalau ada yang menganggap bahwa setiap mahasiswa yang memilih dialog pasti sudah dikondisikan, itu sama saja menganggap mahasiswa tidak punya pendirian. Dan itu justru penghinaan terhadap intelektualitas gerakan mahasiswa itu sendiri,” ujar Anggara.

Ia menambahkan bahwa tuduhan semacam itu kerap muncul bukan karena ada bukti yang kuat, melainkan karena sebagian pihak memang tidak nyaman melihat aspirasi mahasiswa berhasil disampaikan tanpa keributan. Seolah-olah perjuangan hanya sah jika dilakukan dengan cara yang keras dan terlihat.

“Perlu kita jujur tanyakan kepada diri sendiri: jangan-jangan yang terkondisikan justru adalah mereka yang merasa belum bergerak kalau belum turun ke jalan, tanpa peduli apakah jalannya masih relevan atau tidak,” sindir Anggara.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa menyampaikan aspirasi lewat dialog bukan tanda kelemahan gerakan, bukan pula bentuk keberpihakan kepada pemerintah.

Dialog yang produktif, audiensi yang terstruktur, dan keterlibatan langsung dalam forum kebijakan justru adalah ekspresi tertinggi dari gerakan mahasiswa yang dewasa dan berdampak nyata.
“Ada anggapan keliru yang berkembang seolah-olah mahasiswa yang memilih dialog berarti sudah jinak atau sudah masuk angin. Itu cara berpikir yang dangkal. Justru yang perlu dipertanyakan adalah kenapa sebagian pihak lebih memilih kerumunan di depan gerbang daripada duduk di meja pembahasan dan memastikan aspirasinya benar-benar ditindaklanjuti,” kata Anggara.

GMNI Padang menegaskan bahwa gerakan mahasiswa yang sejati adalah gerakan yang berorientasi pada dampak, bukan pada penampilan. Demonstrasi adalah hak konstitusional yang harus dijaga kesuciannya dan kesucian itu akan runtuh ketika demonstrasi dijadikan panggung euforia tanpa pijakan kajian yang kokoh.

“Kami tidak anti-demonstrasi. Kami anti-demonstrasi yang kosong. Turun ke jalan itu sah, tapi harus dengan bekal yang kuat: data yang valid, tuntutan yang terukur, dan keyakinan bahwa semua jalur lain memang sudah tertutup. Kalau ruang dialog masih terbuka lebar, dan aspirasi sudah disampaikan, lalu masih juga turun ke jalan itu bukan perjuangan, itu pertunjukan,” tutup Anggara Surya Pratama.

 

News Feed