Purwaji, Kader Petarung yang Menutup Khidmah dengan Kepala Tegak

Headline, Politik156 Dilihat

ERAINDEPENDEN.COM–Bagi banyak kader yang mengenal perjalanan organisasinya, Purwaji dinilai sebagai figur yang telah mendedikasikan diri dengan penuh loyalitas dan semangat khidmah kepada GP Ansor dan Nahdlatul Ulama. Namanya dikenal luas saat memimpin Pimpinan Wilayah GP Ansor Riau, sebuah wilayah yang memiliki tantangan tersendiri dalam menggerakkan roda organisasi dan kaderisasi.

Selama masa kepemimpinannya di Riau, Ansor dan Banser aktif terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, kemanusiaan, serta dukungan terhadap program-program negara. Mulai dari penanganan kebakaran hutan dan lahan hingga berbagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat, menjadi bagian dari kiprah organisasi yang dipimpinnya saat itu.

Sejumlah kader menilai keberhasilan Purwaji tidak hanya lahir dari kemampuan manajerial organisasi, tetapi juga dari dedikasi dan kecintaannya terhadap Ansor dan NU. Sikap tersebut, menurut mereka, turut terlihat ketika Purwaji berada di barisan kader yang memberikan dukungan kepada mantan Ketua Umum GP Ansor, Yaqut Cholil Qoumas atau Gus Yaqut, di tengah berbagai dinamika dan tudingan yang berkembang di ruang publik.

Para pendukung Purwaji memandang langkah yang diambilnya saat itu bukan sekadar pembelaan terhadap pribadi Gus Yaqut, melainkan sebagai bentuk solidaritas kader terhadap sesama kader yang dianggap sedang menghadapi persoalan. Mereka menilai sikap tersebut merupakan bagian dari tradisi persahabatan, loyalitas, dan kebersamaan yang selama ini menjadi nilai penting dalam kultur organisasi.

Pemberhentian Purwaji pun memunculkan beragam tanggapan. Sebagian kader menilai keputusan tersebut merupakan hak organisasi dalam menjalankan mekanisme dan aturan internal. Namun, di sisi lain, terdapat pandangan yang menyebut peristiwa ini dapat menjadi bahan refleksi mengenai ruang kader dalam menyampaikan sikap dan pandangan terhadap dinamika yang terjadi di lingkungan organisasi.

Ketua PC GP Ansor Kabupaten Sijunjung, Fadhlur Rahman Ahsas, turut menyampaikan apresiasinya terhadap perjalanan khidmah Purwaji. Menurutnya, Purwaji telah menunjukkan konsistensi dalam mengabdi kepada organisasi, baik ketika memimpin di daerah maupun saat mengemban amanah di tingkat nasional.

“Apa pun dinamika yang terjadi hari ini, jejak pengabdian dan loyalitas kepada organisasi akan tetap menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan GP Ansor. Saya menjadi saksi dalam perjalanan gelombang perjuangan beliau membawa panji GP Ansor Riau hingga dikenal secara nasional,” ujar Fadhlur Rahman Ahsas yang akrab disapa Gus Lur.

Menurut Gus Lur, pengabdian seorang kader tidak dapat diukur hanya dari posisi yang diemban, melainkan dari konsistensi perjuangan dan kontribusi yang telah diberikan kepada organisasi serta masyarakat.

Hingga kini, pemberhentian Purwaji masih menjadi topik diskusi di berbagai kalangan kader Ansor dan Banser. Peristiwa tersebut sekaligus membuka ruang refleksi mengenai makna loyalitas, persahabatan, serta khidmah dalam organisasi yang selama ini menjadi bagian penting dari tradisi kaderisasi Gerakan Pemuda Ansor dan Nahdlatul Ulama.