Latihan militer yang diperkirakan akan menarik perhatian mata-mata Tiongkok akan berlangsung selama tiga minggu, dan diadakan saat Perdana Menteri Anthony Albanese melakukan kunjungan ke Beijing.
Latihan militer terbesar dalam sejarah Australia secara resmi dimulai pada hari Minggu (13/6), dan diperkirakanakan kembali diiringi kapal pengintai Tiongkok.
Latihan yang diberi nama Talisman Sabre pertama kali diadakan pada 2005 sebagai latihan bersama dua tahunan antara Amerika Serikat dan Australia. Tahun ini, lebih dari 35.000 anggota militer dari 19 negara akan mengikuti latihan selama tiga minggu, demikian diumumkan Departemen Pertahanan Australia pada hari Minggu (13/6).
Beberapa negara yang juga mengirimkan pasukan militer mereka meliputi Kanada, Fiji, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Jepang, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Papua Nugini, Filipina, Korea Selatan, Singapura, Thailand, Tonga, serta Inggris.
Sementara itu, Malaysia dan Vietnam juga hadir sebagai pengamat.
Latihan juga akan diadakan di perairan Papua Nugini, yang menjadi pertama kalinya kegiatan Talisman Sabre dilaksanakan di luar wilayah Australia.
Aksi spionase Tiongkok
Menteri Industri Pertahanan Australia, Pat Conroy, menyatakan bahwa kapal pengintai Tiongkok telah mengawasi latihan laut di sekitar pantai Australia selama empat kali pelaksanaan Talisman Sabre sebelumnya, dan diperkirakan akan kembali melakukan pengawasan dalam latihan yang sedang berlangsung saat ini.
“Angkatan bersenjata Tiongkok telah memantau latihan ini sejak 2017. Sangat tidak biasa jika mereka tidak memperhatikannya kali ini,” kata Conroy kepada Australian Broadcasting Corporation.
“Kami akan menyesuaikan diri. Kami pasti akan mengawasi aktivitas mereka serta memantau kehadiran mereka di sekitar Australia, tetapi kami juga akan menyesuaikan metode pelaksanaan latihan ini,” tambahnya.
Conroy mengatakan bahwa hingga hari Minggu, belum ada indikasi adanya kapal Tiongkok yang mengawasi armada latihan.
Latihan resmi dimulai pada hari Minggu dengan upacara di Sydney yang dihadiri oleh Wakil Komandan Jenderal Angkatan Darat Pasifik Amerika Serikat, Letnan Jenderal J.B. Vowell, serta Kepala Operasi Gabungan Angkatan Bersenjata Australia, Laksamana Madya Justin Jones.
Albanese melawat ke Cina
Latihan Talisman Sabre dimulai satu hari setelah Perdana Menteri Australia Anthony Albanese memulai kunjungan enam hari ke Tiongkok. Ia direncanakan bertemu Presiden Xi Jinping untuk yang keempat kalinya secara langsung di Beijing pada Selasa (15/6).
Albanese menyebutkan aktivitas pengintaian yang dilakukan Tiongkok terhadap Talisman Sabretidak akan menjadi topik pembicaraan dengan Xi.
“Bukanlah hal yang luar biasa. Hal ini pernah terjadi sebelumnya dan saya akan tetap menyampaikan kepentingan nasional Australia, seperti yang selalu saya lakukan,” kata Albanese kepada wartawan di Shanghai pada Senin.
Albanese juga menekankan bahwa meskipun ia telah lima kali berkunjung ke Amerika Serikat sebagai perdana menteri, baru dua kali ia mengunjungi Beijing.
Ia sering mendapat kritikan di dalam negeri karena dianggap tidak mampu mengkoordinasi pertemuan langsung dengan Presiden AS Donald Trump.
“Saya berharap adanya partisipasi yang positif dengan Presiden Trump. Kami telah melakukan tiga percakapan telepon yang bermanfaat,” kata Albanese.
Kembali mesra setelah perselisihan kapal selam
Australia semakin bergantung pada Amerika Serikat untuk keamanan, terutama setelah membatalkan pembelian kapal selam dari Prancis dan memilih kapal selam berbahan bakar nuklir melaluikesepakatan trilateral AUKUS antara Amerika Serikat dan Inggris.
Persoalan ini membuat Paris marah, sehingga hubungan antara kedua negara menjadi tegang.
Namun setelah Perdana Menteri Anthony Albanese terpilih dalam pemilu 2022, hubungan pertahanan antara Australia dan Prancis memasuki “awal yang baru,” kata Duta Besar Prancis Pierre-Andre Imbert, pada Sabtu (13/6).
“Pada saat ini, pilar pertama kerja sama kami adalah pertahanan dan keamanan, sehingga kami memiliki tingkat kerja sama yang sangat baik,” ujar duta besar kepada AFP saat pasukan Prancis ikut serta dalam latihan Talisman Sabre.
Isu bagi Canberra, ketika seorang pejabat pertahanan Amerika Serikat bulan lalu menyatakan bahwa kesepakatan AUKUS sedang ditinjau kembali untuk memastikan sesuai dengan “agenda America First dari Presiden” dan mengevaluasi kemampuan industri pertahanan AS dalam memenuhi kebutuhan kami.
Di bawah kerangka AUKUS, Australia rencananya akan membeli paling sedikit tiga kapal selam kelas Virginia dari Amerika Serikat dalam jangka waktu 15 tahun mendatang, sebelum akhirnya mengembangkan kapal selam buatan sendiri.
Saat ini, Angkatan Laut Amerika Serikat memiliki 24 kapal selam tipe Virginia, namun pabrik kapal AS sedang menghadapi kesulitan dalam mencapai target produksi sebanyak dua kapal baru setiap tahun.
Saat ditanya apakah Prancis akan mempertimbangkan kembali pembicaraan mengenai kapal selam dengan Australia jika kesepakatan AUKUS dibatalkan karena hasil tinjauan tersebut, duta besar Prancis enggan membuat prediksi.
“Saya pikir ini lebih menjadi masalah bagi Australia saat ini. Dan tentu saja, kami selalu berbicara dengan teman-teman kami di Australia,” katanya.
Tetapi untuk saat ini, mereka telah memutuskan AUKUS,” tambahnya. “Jika hal itu berubah dan mereka meminta kerja sama, kita akan lihat nanti.
Editor: Hendra Pasuhuk
ind:penulis_konten: Rizki Nugraha (AP, AFP)










