Ekoton Minta Australia Hentikan Ekspor Sampah Plastik, Ini 3 Alasannya

Tekno138 Dilihat

10drama.com –, Surabaya– Lembaga Penelitian Ekologi dan Konservasi Daerah Gambut (Ecoton) meminta Pemerintah AustraliaMenghentikan pengiriman limbah ke Indonesia melalui aksi yang dilakukan di Konsulat Jenderal Australia, Surabaya, pada Rabu, 6 Agustus 2025. Para peserta aksi, yang seragam berpakaian hitam, membawa pesan tertulis dan simbol di depan gedung ESA Sampoerna di Surabaya, tempat kantor Konsulat Negeri Kanguru berada.

Dalam aksi demonstrasi, rombongan massa membawa lemari kaca yang berisi tumpukansampah plastik. Di dalam tumpukan sampah terdapat replika seorang bayi. “Menggambarkan bahwa sampah plastik berbahaya bagi bayi,” kata Alaika Rahmatullah, koordinator kegiatan tersebut.

Mengutip data dari Ecoton, Alaika menyebutkan bahwa Australia telah mengirim 22.000 ton sampah plastik ke Indonesia pada periode 2023-2024. Penelitian yang dilakukan sejak 2020 menunjukkan bahwa Ecoton mencatat sudah ada 2,7 miliar kilogram sampah kertas (HS 4707) dari Australia yang masuk ke Indonesia dalam lima tahun terakhir. Sampah-sampah ini terkontaminasi scrap plastik—limbah sisa produksi. Jika dihitung keseluruhannya, rata-rata 542.000 ton per tahun sampah plastik datang dari negara tersebut.

Terdapat tiga tuntutan yang disampaikan dalam aksi tersebut. Pertama, Ecoton menuntut penghentian semua jenis ekspor limbah plastik dari Australia ke Indonesia. Kedua, Australia diminta untuk mendukung perjanjian global mengenai plastik yang ambisius, mengikat, dan adil. Tuntutan ketiga adalah agar pemerintah Australia dan Indonesia secara aktif menjaga kesehatan manusia, keanekaragaman hayati, serta lingkungan dari bahan kimia beracun dalam plastik.

Alaika menambahkan, Australia juga mengirimkan 22.333 ton sampah plastik ke Indonesia pada tahun 2023-2024. Angka ini meningkat sebesar 27,9 persen dibandingkan periode dua tahun sebelumnya, yang berada di kisaran 16.100 ton. “Ini menjadi ancaman besar bagi masyarakat dan menjadi beban penyakit di Indonesia,” katanya.

Janin Menghadapi Bahaya Paparan Partikel Plastik

Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilianti, dalam wawancara terpisah, menyatakan organisasinya juga menemukan bahwa sampah plastik Australia menjadi penyebab pencemaran dioksin di Desa Tropodo dan Desa Gedangrowo, Kabupaten Sidoarjo, serta di Kecamatan Pagak, Kabupaten Malang.

Sampah yang dikirim ini, menurutnya, berpotensi meningkatkan beban pencemaran mikroplastik di Indonesia. Terlebih lagi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa mikroplastik kini ditemukan dalam mekonium, yaitu tinja pertama bayi yang baru lahir. “Menandakan bahwa paparan partikel plastik sudah dimulai sejak masa janin,” kata Rafika.

Penelitian Ecoton menemukan bahwa sampah plastik ini pecah menjadi mikroplastik, mampu menembus plasenta, dan akhirnya masuk ke cairan amnion. Rafika menyebutkan bahwa sampel yang digunakan untuk penemuan ini diambil dari perempuan pemulung, kelompok yang rentan terpapar limbah plastik.

Akibatnya, tim peneliti Ecoton menemukan 88 partikel dari 26 sampel dalam darah, 107 partikel dari 11 sampel dalam cairan ketuban, serta 52 partikel dari 9 sampel dalam urine. Organisasi ini menyimpulkan bahwa rahim tidak lagi menjadi tempat yang aman bagi janin. Hal ini disebabkan oleh ditemukannya mikroplastik di plasenta, cairan ketuban, darah tali pusat, dan darah ibu.

“Partikel ini dapat menyebabkan janin mengalami stres oksidatif, gangguan hormon, serta kerusakan pada DNA janin,” kata Rafika.